Block "iklan-atas" not found

Titik Terang > Blog > AMRI dan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta Pamerkan 52 Manuskrip Karya KH Ahmad Rifa’i

AMRI dan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta Pamerkan 52 Manuskrip Karya KH Ahmad Rifa’i

SURAKARTA, Titikterang-News – Warisan keilmuan ulama pejuang sekaligus Pahlawan Nasional, KH Ahmad Rifa’i, kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui pameran 52 manuskrip karya beliau yang digelar oleh Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) bekerja sama dengan Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta.

 

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta pada Senin (13/7/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan khazanah intelektual Islam Nusantara sekaligus mendorong lahirnya kajian akademik yang lebih luas terhadap pemikiran KH Ahmad Rifa’i.

 

Selain pameran manuskrip, agenda juga dirangkaikan dengan Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i bertema “Pemikiran KH Ahmad Rifa’i dan Relevansinya bagi Islam Kontemporer di Nusantara”. Forum ilmiah ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan pemerhati sejarah Islam untuk mendiskusikan kontribusi pemikiran KH Ahmad Rifa’i dalam menjawab tantangan zaman.

 

Ketua Panitia, Ahmad Zahid Ali, menjelaskan bahwa sebanyak 52 manuskrip kitab karya KH Ahmad Rifa’i dipamerkan kepada publik. Selain itu, panitia juga menghadirkan replika bathok (tempurung kelapa) yang dahulu digunakan sebagai alat ukur zakat resmi buatan KH Ahmad Rifa’i dengan ukuran satu mud sebagaimana dikenal dalam fikih Islam.

 

Menurutnya, meskipun KH Ahmad Rifa’i telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sejak 2004, penelitian akademik mengenai karya dan pemikirannya masih perlu terus dikembangkan. Melalui pameran ini diharapkan semakin banyak kalangan akademisi maupun generasi muda yang tertarik meneliti warisan intelektual beliau.

 

KH Ahmad Rifa’i dikenal sebagai ulama produktif yang melahirkan banyak karya keislaman dalam bentuk syair beraksara Pegon berbahasa Jawa. Manuskrip-manuskrip tersebut hingga kini masih dipelajari dan diwariskan di lingkungan Jemaah Rifa’iyah, menjadi bagian penting dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang terus hidup dari generasi ke generasi.

 

Pameran ini menjadi pengingat bahwa manuskrip kuno bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan sumber ilmu pengetahuan yang memiliki nilai penting dalam pengembangan studi Islam, pelestarian budaya, dan penguatan identitas keilmuan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *