Informasi yang beredar di media sosial mengenai hantavirus sebagai efek samping vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech dipastikan tidak benar. Narasi tersebut muncul setelah sejumlah akun membagikan potongan dokumen pengajuan lisensi vaksin Pfizer ke regulator Amerika Serikat pada 2021. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa daftar efek samping vaksin mencakup “hantavirus pulmonary infection”.
Dokumen yang tersebar sebenarnya memuat daftar “adverse events of special interest”, yakni berbagai kondisi medis yang dipantau selama proses pengawasan vaksin. Istilah “hantavirus pulmonary infection” memang tercantum di dalamnya, namun keberadaan nama penyakit tersebut tidak berarti vaksin menjadi penyebab infeksi hantavirus. Banyak pengguna media sosial kemudian keliru menafsirkan daftar tersebut sebagai bukti hubungan langsung dengan vaksinasi.
Pfizer menjelaskan bahwa data dalam dokumen tersebut berasal dari laporan sukarela berbagai sistem pemantauan kesehatan, termasuk VAERS di Amerika Serikat. Seluruh gangguan kesehatan yang dilaporkan setelah vaksinasi dapat masuk ke database, meskipun belum terbukti memiliki kaitan ilmiah dengan vaksin Covid-19. Dengan kata lain, laporan yang tercatat hanya bersifat pemantauan awal dan bukan konfirmasi penyebab penyakit.
Regulator kesehatan di Amerika Serikat maupun Inggris juga telah menegaskan bahwa laporan dalam sistem pengawasan vaksin tidak otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat. Pemerintah Inggris bahkan memberikan izin pemasaran penuh untuk vaksin Pfizer setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan dan efektivitasnya. Dalam dokumen resmi produk vaksin Comirnaty, hantavirus tidak tercantum sebagai efek samping yang terbukti berkaitan dengan vaksin.
Hantavirus sendiri merupakan virus langka yang umumnya menular melalui paparan tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sebagian besar kasus terjadi akibat kontak dengan lingkungan yang tercemar kotoran hewan pembawa virus. Pfizer juga menegaskan vaksin Comirnaty tidak mengandung virus hidup, termasuk hantavirus, sehingga klaim yang beredar di media sosial tidak memiliki dasar ilmiah.
