Jumlah korban jiwa akibat gelombang demonstrasi nasional di Iran diperkirakan terus meningkat. Seorang pejabat Iran yang dikutip Reuters menyebut sedikitnya 5.000 orang tewas dalam rangkaian protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan. Sementara itu, organisasi pemantau hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melaporkan angka kematian mencapai 3.308 orang, dengan ribuan kasus lainnya masih dalam proses verifikasi.
Selain korban jiwa, HRANA juga mencatat lebih dari 24.000 orang telah ditangkap sejak unjuk rasa merebak. Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait total korban sipil. Otoritas setempat justru menegaskan bahwa lebih dari 100 aparat keamanan gugur sebagai martir akibat kekerasan yang mereka klaim dilakukan oleh kelompok bersenjata yang menyusup dalam aksi-aksi protes.
Di tengah situasi domestik yang memanas, Teheran melayangkan peringatan keras kepada Amerika Serikat agar tidak ikut campur dalam konflik internal Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa setiap bentuk agresi dari Washington akan dibalas secara tegas. Peringatan tersebut disampaikan saat tekanan internasional terhadap penanganan demonstrasi di Iran terus menguat.
Aksi protes yang awalnya dipicu persoalan ekonomi itu kini berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk seruan untuk mengakhiri pemerintahan ulama. Demonstrasi yang bermula di Grand Bazaar Teheran dengan cepat meluas ke berbagai daerah dan melibatkan beragam kelompok masyarakat. Dalam pernyataannya di platform X, Pezeshkian menegaskan bahwa serangan terhadap kepemimpinan tertinggi Iran akan dianggap sebagai perang terbuka terhadap bangsa Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman intervensi dan menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran. Di sisi lain, lembaga peradilan Iran membuka kemungkinan penerapan hukuman mati terhadap sebagian demonstran dengan tuduhan Mohareb, atau berperang melawan Tuhan. Kerusuhan paling mematikan dilaporkan terjadi di wilayah Kurdi di barat laut Iran, sementara pembatasan internet kembali diberlakukan di sejumlah wilayah, memperburuk situasi kemanusiaan dan akses informasi.

