Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel dan Iran saling meluncurkan serangan militer pada Sabtu malam (14/6/2025). Ketegangan memuncak saat Israel menggempur ladang gas South Pars milik Iran—fasilitas energi terbesar negara tersebut—yang memicu penundaan mendadak perundingan nuklir Iran-AS yang sebelumnya dijadwalkan di Oman. Dunia internasional pun waspada akan potensi meletusnya perang besar di kawasan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan ini baru permulaan dan memperingatkan bahwa respons Israel akan lebih besar dalam waktu dekat. Iran tak tinggal diam. Rudal dan drone dikerahkan menuju wilayah Israel, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan, termasuk satu perempuan tewas dan puluhan lainnya terluka akibat hantaman rudal di utara Israel. Iran juga mengakui sejumlah titik strategis di Teheran terkena dampak.
Serangan ke sektor energi menunjukkan Israel mulai menargetkan denyut nadi ekonomi Iran. Harga minyak global melonjak, sementara Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons. Militer Israel berdalih langkah ini perlu dilakukan untuk menggagalkan upaya Iran memproduksi senjata nuklir, meski Iran membantah tuduhan tersebut dan mengklaim program nuklirnya bersifat damai.
Korban jiwa dari pihak Iran tercatat mencapai 138 orang dalam dua hari terakhir, termasuk 29 anak-anak. Serangan ini menuai kritik dari kelompok HAM, sementara Netanyahu justru menyerukan rakyat Iran untuk menentang pemerintah mereka. Di tengah panasnya konflik, peluang dialog diplomatik kian meredup, menyisakan ketakutan bahwa perang skala penuh hanya tinggal menunggu waktu.

