Aceh Tengah 31-01-2025 — Perjalanan kemanusiaan yang ditempuh Baitul Maal ZISWAF (BMZ) menuju Kabupaten Aceh Tengah berubah menjadi perjuangan panjang di jalur rawan bencana. Tim BMZ membutuhkan waktu puluhan jam untuk mencapai Kecamatan Ketol, wilayah yang terdampak banjir dan longsor, dengan kondisi jalan yang masih dikepung bahaya.
Setelah satu bulan pascakejadian banjir dan longsor, BMZ baru dapat berangkat menyusul kabar bahwa jalur darat mulai bisa dilalui. Namun di lapangan, realitas jauh lebih berat. Sepanjang perjalanan, tim harus menembus sedikitnya 14 titik longsor aktif, dengan delapan titik di antaranya menjadi penyumbat total arus kendaraan.
Di sejumlah titik, longsoran tanah dan bebatuan menutup hampir seluruh badan jalan. Kendaraan hanya bisa melaju perlahan, bahkan terhenti selama berjam-jam tanpa kepastian. Antrean panjang kendaraan tak terelakkan, sementara hujan dan medan licin terus mengancam keselamatan perjalanan.
Situasi semakin mencekam ketika salah satu kendaraan tim BMZ mengalami kerusakan ringan akibat menghantam jalan rusak dan material longsor. Tim terpaksa berhenti untuk memastikan kendaraan masih dapat melanjutkan perjalanan, di tengah keterbatasan sinyal dan minimnya penerangan malam hari.
Rombongan BMZ berangkat pada Minggu malam sekitar pukul 22.00 WIB. Waktu tempuh yang semestinya singkat berubah menjadi perjalanan panjang yang menguras fisik dan mental. Tim baru tiba di Aceh Tengah pada Senin sore sekitar pukul 16.00 WIB dalam kondisi kelelahan.
Pembina Baitul Maal ZISWAF, Drs. H. Warsid Smat, MSi, yang turut memantau perjalanan tersebut, menyampaikan ungkapan duka mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Aceh Tengah.
“Kami sangat berduka atas bencana banjir dan longsor yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh Tengah. Perjalanan yang kami lalui penuh hambatan dan risiko, tetapi itu belum sebanding dengan penderitaan warga yang harus kehilangan rasa aman, bahkan tempat tinggal mereka,” ujar Warsid.
Ia menuturkan bahwa perjalanan menuju Kecamatan Ketol menjadi pengalaman yang menggugah nurani. Di tengah antrean panjang kendaraan dan longsoran yang belum sepenuhnya dibersihkan, tim BMZ menyaksikan betapa rapuhnya akses hidup masyarakat di wilayah pegunungan ketika bencana datang.
“Puluhan jam di jalan, terjebak longsor, kendaraan rusak, itu membuat kami semakin sadar bahwa penderitaan warga di sini nyata dan berat. Apa yang kami bawa mungkin sedikit, tetapi niat kami adalah hadir, menyampaikan bahwa mereka tidak sendirian,” tambahnya.
Setelah beristirahat dan melakukan koordinasi lapangan, BMZ melanjutkan misi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan amanah dari para donatur ke Kecamatan Bintang, Kecamatan Takengon, Kecamatan Ketol, dan Kecamatan Silih Nara. Bantuan diberikan sebagai bentuk kepedulian masyarakat Indonesia melalui BMZ kepada warga yang hingga kini masih bertahan di tengah dampak banjir dan longsor.
BMZ menyadari bantuan yang disalurkan masih terbatas. Namun di tengah akses yang belum sepenuhnya pulih dan risiko perjalanan yang nyata, kehadiran tim BMZ menjadi penanda bahwa perjuangan warga Aceh Tengah tidak luput dari perhatian dan solidaritas sesama anak bangsa.
