BINJAI : Tiga wali kota yang menahkodai Kota Binjai, sama-sama telah mendirikan 3 pasar megah untuk menata pedagang kaki lima di daerah tersebut.
Masing-masing pasar dimaksud, yakni Sky Cross, Pasar Modern Rambung, dan Pasar Tavip. Ketiganya berdiri di era wali kota yang berbeda. Sky Cross berdiri di masa Ali Umri, dibangun sekitar tahun 2003 dengan anggaran mencapai Rp23 miliar.
Bangunan dengan 7 lantai tersebut bukan hanya tidak terpakai. Dalam proses pembangunannya, Pemko Binjai saat itu mengorbankan gedung waterleiding yang menjadi salah satu ikon dan sejarah di Kota Binjai.
Sedangkan pada masa kepemimpinan Idaham, sebuah pasar megah juga dibangun dan diberi nama Pasar Modern Rambung. Pengerjaannya dilakukan sekitar tahun 2014 dengan menelan anggaran mencapai Rp15 miliar.
Pasca diresmikan sekitar pertengahan tahun 2020, Pasar Modern Rambung ini sempat beroperasi. Hampir semua kios dan meja diisi oleh pedagang.
Namun sayang, baru beberapa bulan beraktivitas, pasar ini langsung sepi dan pedagang satu per satu mulai meninggalkan tempat tersebut. Kini, Pasar Rambung Modern tak lagi berfungsi dan direncanakan menjadi Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Binjai.
Seakan tak mau tertinggal dari pendahulunya, Pemko Binjai yang saat ini di bawah kepemimpinan Amir Hamzah turut membangun pasar megah di pusat pasar tradisional, ya Pasar Tavip.
Pasar Tavip, lokasi perdagangan tradisonal ini sudah ada sejak 1964 dan sempat mengalami kebakaran hebat. Untuk membangun kembali gedung itu, Amir Hamzah meminta bantuan Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR.
Sekitar tahun 2023, revitalisasi Pasar Tavip pun dilakukan dengan menelan anggaran Rp60 miliar. Pada Januari 2026, gedung yang sudah berdiri megah diserahterimakan kepada Pemko Binjai.
Setelah gedung diterima, Amir Hamzah mulai menghidupkan pasar dengan meminta para pedagang menempati lapak yang diberikan sesuai data.
Namun, hingga saat ini pedagang yang berminat jualan di gedung baru Pasar Tavip hanya sebagian kecil, atau masih disi oleh pedagang ikan dan daging. Selebihnya, tetap memilih menggunakan tenda di sudut-sudut ruko tepi jalan.
Bahkan, tak sedikit pedagang menggunakan tenda berbaris di depan gedung Pasar Tavip yang megah. Kondisi ini pun membuat gedung Pasar Tavip terlihat kurang efektif dan seakan tidak sesuai dengan anggaran revitalisasi yang dihabiskan.
Sejumlah pedagang mengakui, mereka tidak berkenan masuk ke gedung Pasar Tavip karena sulit untuk naik ke lantai dua. “Belum ada yang mau masuk. Lagian pun payah, udah tua naik ke lantai dua. Lantainya licin, salah-salah saya jatuh,” kata pedagang di seputaran Pasar Tavip.
“Untuk pembeli juga kurang berminat di dalam gedung, karena harus naik lagi ke lantai dua. Pembeli lebih suka berbelanja ke tempat seperti, bisa sambil melintas aja kalau ada yang ingin dibeli,” tambahnya.
Apa yang saat ini terjadi dengan gedung Pasar Tavi, setidaknya sama dengan apa yang terjadi dengan Sky Cross dan Pasar Modern Rambung.
Jika kondisi ini terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan gedung Pasar Tavip yang berdiri megah juga akan bernasib sama. Lantas, bagaimana Amir Hamzah beserta para stafnya menindaklanjuti hal ini?
Setelah di konfirmasi Kepada Kepala Dinas Ketenaga kerjaan dan
Perdagangan ,Hamdanai Hasibuan,Selasa, (03/11/2026)mengatakan,
terkait Pasar Rambung di jadikan Mal Pelayanan Publik (MPP).
Adapun terkait Pasar Sky Cros menyatakan wacana untuk di jadikan Kantor Dinas Pariwisata yang sudah di diskusikan kepada Walikota Binjai H.Amir Hamzah .
Sedangkan, kata Hamdani , Pasar Tavip dalam proses penataan ruang. “Kami sudah berdiskusi ke pedagang.kapan ini bisa di laksanakan belum dapat kami pastikan,” Jelas Hamdani.

