Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas dalam beberapa waktu terakhir. Namun di tengah meningkatnya serangan militer, laporan internal dari lembaga intelijen Amerika Serikat justru memunculkan keraguan besar mengenai efektivitas perang tersebut dalam menggulingkan pemerintahan Iran.
Sejumlah analisis intelijen terbaru menyebutkan bahwa ambisi besar pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendorong perubahan rezim di Teheran kemungkinan besar tidak akan tercapai. Bahkan jika operasi militer terus diperluas, struktur kekuasaan di Iran dinilai masih cukup kuat untuk bertahan dari tekanan militer eksternal.
Laporan yang dipublikasikan oleh The Washington Post menyebutkan bahwa kajian rahasia dari National Intelligence Council menyimpulkan peluang menggulingkan pemerintahan Iran melalui perang sangat kecil. Temuan ini muncul ketika pemerintah AS masih mempertimbangkan kelanjutan serangan militer, sementara anggota Partai Demokrat di Kongres mulai mengkhawatirkan menipisnya persediaan senjata Amerika akibat kampanye udara yang berkepanjangan.
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara terhadap berbagai target di Iran. Operasi militer tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta sejumlah tokoh penting lainnya. Iran kemudian merespons dengan serangan balasan yang menargetkan Israel, instalasi militer Amerika di kawasan Timur Tengah, serta negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan berjalan dengan sangat baik. Dalam pernyataannya saat menghadiri KTT Shield of the Americas di Florida, ia mengklaim bahwa militer AS telah menghancurkan puluhan kapal angkatan laut Iran, melumpuhkan angkatan udara mereka, serta memutus jaringan komunikasi negara tersebut. Trump juga menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir yang dinilainya berbahaya bagi dunia.
