Harga emas dan perak kompak melemah tajam akibat aksi jual besar-besaran pelaku pasar yang merealisasikan keuntungan setelah reli kuat sebelumnya. Tekanan ini terjadi di tengah dinamika data ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya spekulasi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup melemah 0,98% ke level US$ 4.452,77 per troy ons pada perdagangan Rabu (7/1/2026), berbalik arah dari kenaikan 1,1% sehari sebelumnya. Meski demikian, emas mulai menunjukkan perbaikan pada Kamis (8/1/2026) pagi dengan kenaikan 0,2% ke posisi US$ 4.461,75 per troy ons. Penurunan harga emas sebelumnya dipicu aksi ambil untung investor, meskipun tekanan sempat mereda setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih lemah dari perkiraan.
Data JOLTs menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 303.000 menjadi 7,146 juta pada November 2025, level terendah sejak September 2024 dan jauh di bawah ekspektasi pasar. Laporan ADP juga mencatat pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta Desember yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve hingga 61 basis poin tahun ini, faktor yang dalam jangka menengah masih menopang harga emas sebagai aset lindung nilai.
Sementara itu, harga perak mengalami tekanan yang lebih dalam. Refinitiv mencatat perak anjlok 3,85% ke level US$ 78,15 per troy ons pada Rabu, setelah sehari sebelumnya melonjak 6,2%. Pada Kamis pagi, perak sedikit pulih 0,6% ke US$ 78,62 per troy ons. Ke depan, volatilitas perak diperkirakan tetap tinggi. HSBC menaikkan proyeksi harga perak 2026 menjadi US$ 68,25 per troy ons, sementara Goldman Sachs memperingatkan potensi pergerakan ekstrem akibat tipisnya persediaan di London yang berisiko memicu reli berbasis short squeeze.

