Block "iklan-atas" not found

Titik Terang > Blog > Cahaya Maulid di Pesantren Rafiuddin Al Barokah: Wisuda Hafiz Qur’an, Santunan Yatim, dan Tantangan Generasi

Cahaya Maulid di Pesantren Rafiuddin Al Barokah: Wisuda Hafiz Qur’an, Santunan Yatim, dan Tantangan Generasi

Medan – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini membawa suasana haru sekaligus kebanggaan di Pondok Pesantren Rafiuddin Al Barokah, Ahad (14/9/2025). Gema doa berkumandang, menghadirkan nuansa syukur atas lahirnya Nabi akhir zaman, sekaligus menjadi momentum lahirnya generasi baru penghafal Qur’an.

Acara yang berlangsung khidmat ini memadukan tiga agenda utama: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, santunan anak yatim dan dhuafa, serta wisuda santri penghafal Al-Qur’an angkatan ke-3.

Tiga Santri Tuntas Hafalan 30 Juz

Pesantren kembali menorehkan prestasi dengan melahirkan hafiz/hafizah baru. Tiga santri diumumkan berhasil menamatkan hafalan 30 juz dengan predikat sangat baik:

Ananda Salman Alfahrezi

Ananda Muhammad Rizki Ramadhan

Ananda Suci Ramadhani

“Semoga mereka menjadi generasi Qur’ani yang dirindukan surga,” ujar Bunda Chairida Pulungan, pembina pesantren.

Air Mata dalam Puisi

Hadirin dibuat terdiam ketika Halimah, seorang santri yatim, membacakan puisi berjudul “Angin Titip Rinduku Buat Ayah dan Ibu.” Kisah hidupnya yang sejak lahir ditinggal ibu, lalu tak lama kemudian ayahnya wafat, membuat bait-bait puisi kian menyayat hati.

Puisi lain berjudul “Deritanya Seorang Ibu, Susahnya Seorang Ayah” yang dibawakan ananda Wardah, menjadi pengingat bahwa di balik keberhasilan anak-anak berdiri di panggung pesantren, ada peluh perjuangan orang tua yang tak terlihat.

Bukan Sekadar Seremonial

Peringatan Maulid dan wisuda hafiz ini bukan hanya perayaan simbolik. Ia adalah jawaban nyata atas tantangan zaman. Di era digital, ketika anak muda lebih akrab dengan layar gawai ketimbang mushaf, hadirnya hafiz-hafizah adalah bentuk perlawanan senyap: menjaga Qur’an agar tetap hidup di hati generasi.

Abi Syahron, mewakili pesantren, menegaskan bahwa agenda semacam ini adalah benteng moral. “Semoga majelis ini menjadi wasilah turunnya rahmat Allah, serta memotivasi kita semua untuk terus bersama Al-Qur’an,” ucapnya.

Namun,  disaat bersamaan juga menghadirkan pertanyaan: mampukah hafalan 30 juz bertahan di tengah derasnya arus distraksi digital? Tanpa ekosistem yang kuat, hafalan bisa layu sebelum berkembang. Inilah PR besar bagi pesantren, orang tua, dan masyarakat: tidak cukup melahirkan hafiz, tapi juga membangun lingkungan yang Qur’ani.

Acara ditutup dengan santunan anak yatim dan doa bersama. Di tengah kesederhanaan, Pesantren Rafiuddin Al Barokah mengirim pesan kuat: peringatan Maulid bukan sekadar nostalgia kelahiran Nabi, tetapi momentum menyalakan obor iman di tengah gelapnya zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *